Seringkali kita menyangka.
Bahwa ujian itu hanya berupa kesulitan. Hanya berupa kesempitan. Dan musibah.
Padahal pada hakikatnya.
Kehidupan kita di dunia ini seluruhnya adalah ujian. Yang pahit ujian. Yang manis pun ujian.
Bahkan begitu banyak yang ngga lulus ketika diuji dengan yang manis. Ghāfil, lalai, lupa sama Allah. Terbius oleh manisnya dunia.
Dan begitu banyak yang kembali kepada-Nya. Bertaubat kepada-Nya. Menyerahkan diri kepada-Nya. Yakin dan tawakkal kepada-Nya. Ketika diuji dengan pahitnya dunia.
Diberi yang manis bukanlah tanda Allah mencintai kita. Diberi yang pahit bukan tanda Allah membenci kita. Karena kalau memang begitu logikanya, berarti Allah mencintai Qārūn yang hartanya melimpah, dan membenci Nabi Muhammad ﷺ yang hidupnya penuh dengan tantangan, kesulitan, dan penderitaan?
Tanda PASTI bahwa Allah mencintai kita cuma satu. TAQWĀ.
Cinta Allah ngga ada hubungannya dengan kaya-miskin, senang-susah, sehat-sakit, lapang-sempit.
Mau kita sedang diberi kesempitan, ataupun keluhan kesehatan bagaimana pun, kalau itu membuat kita lebih taat kepada-Nya, lebih takut kepada ancaman-Nya, lebih takut untuk mendekati yang haram. Lebih dekat dengan-Nya. Lebih khusyū’ dalam beribadah dan memohon kepada-Nya. Lebih bergantung dan berserah diri kepada-Nya. Itu artinya Allah mencintai kita.
Sebaliknya.
Meskipun kita diberi kelapangan, kesehatan, harta melimpah, sebanyak apa pun itu, kalau itu malah membuat kita makin lalai dengan perintah-Nya, lupa kepada-Nya, jadi akrab sama konten-konten haram. Ibadah makin berkurang, jarang-jarang, dan prioritasnya ditaruh ‘di belakang’. Merasa cukup dan ngga butuh sama Allah. Itu sebenernya istidraj. Allah sudah meninggalkan kita dan ngga mencintai kita.
Maka seseorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, akan selalu memuji-Nya, apa pun kondisi yang sedang dihadapinya. Alhamdulillāh ‘alā kulli hāl.
Diberi sehat, alhamdulillāh.
Diberi sakit, alhamdulillāh.
Diberi kelapangan, alhamdulillāh.
Diberi kesempitan, alhamdulillāh.
Bagi seorang mu’min, semua ketentuan Allah itu baik. Yang manis baik. Yang pahit pun baik.
Keduanya akan terus menguji kita di dunia, hingga waktu kematian tiba.
Maka bersegeralah untuk lulus ujian.
Bersegeralah untuk ‘membeli’ keselamatan diri kita di ākhirah, dengan ‘amal shālih. Dengan kesabaran dan īmān.
Sebagaimana nasihat Ibn us-Samāk rahimahullāh,
الدُّنْيَا كُلُّهَا قَلِيْلٌ، وَالَّذِي بَقِيَ مِنْهَا قَلِيْلٌ، وَالَّذِي لَكَ مِنَ البَاقِي قَلِيْلٌ، وَلَمْ يَبْقَ مِنْ قَلِيْلِكَ إِلاَّ قَلِيْلٌ، وَقَدْ أَصْبَحتَ فِي دَارِ العَزَاءِ، وَغَداً تَصِيْرُ إِلَى دَارِ الجَزَاءِ، فَاشْتَرِ نَفْسَكَ، لَعَلَّكَ تَنجُو.
“Dunia itu seluruhnya sedikit. Dan yang masih tersisa darinya sedikit. Bagianmu dari sisa itu juga sedikit. Dan tidak tersisa dari bagianmu yang sedikit itu melainkan sedikit. Pagi ini engkau sedang berada di negeri kesabaran. Dan esok engkau akan berada di negeri pembalasan. Maka beli lah dirimu (dengan amal shālih) semoga engkau selamat.”
[Siyaru A’lām in-Nubalā’, 7/331]



