Tawbah

Bulan Ramadhān ini…
Bukan cuma kesempatan untuk memperbanyak ‘amal shālih, tapi ia juga sebuah momentum langka bagi kita semua, untuk menginjakkan rem pada kemaksiatan dan ketidaktaatan tertentu, yang selalu ingin bergulir ter-eksekusi.

Sebuah momentum untuk tawbah.

Tawbah تَوْبَة itu apa sih sebenernya?
Secara bahasa, tawbah تَوْبَة itu mashdar (semacam bentuk kata benda) dari kata kerja (Fi’l) tāba تَابَ atau yatūbu يَتُوبُ , yang artinya ‘kembali’, ‘to return‘ atau ‘to turn back‘.

Di dalam konteks syari’at, bagi seorang hamba, tāba تَابَ itu berarti kita nginjek rem, banting setir, berpaling dari suatu kemaksiatan, dari suatu ketidaktaatan, dari suatu dosa, lalu kembali ke arah yang benar, kepada Allah.

Jadi, tawbah تَوْبَة itu berpalingnya kita dari suatu ketidaktaatan, kembalinya kita ke jalan Allah, dan kembalinya hati kita kepada Allah.

Nah yang epic, di dalam Al-Qur’ān, kata tāba تَابَ atau yatūbu يَتُوبُ itu sering diikuti dengan kata ilā إِلَى dan kadang pula dengan kata ‘alā عَلَى .

Ilā إِلَى itu artinya ‘ke’ atau ‘kepada’. Sedangkan ‘alā عَلَى artinya ‘di atas’ atau ‘atas’.

Contohnya di Sūrah Al-Furqān ayat 71 berikut, ada kata yatūbu ilā يَتُوبُ إِلَى :

وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

“Barangsiapa [tāba] dan melakukan ‘amal shālih, maka sungguh ia [yatūbu ilā-llāhi] dengan sebenar-benar tawbah.”

Dan di Sūrah Al-Mā’idah ayat 39 misalnya, ada kata yatūbu ‘alā يَتُوبُ عَلَى :

فَمَن تَابَ مِن بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Maka barangsiapa [tāba] dari kezhalimannya dan memperbaiki diri, maka sungguh Allah [yatūbu ‘alayhi]. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Jadi apa bedanya yatūbu ilā يَتُوبُ إِلَى dengan yatūbu ‘alā يَتُوبُ عَلَى ?

Ketika fā’il (pelaku / subjek) dari kata kerja yatūbu يَتُوبُ nya adalah seorang hamba, maka digunakan yatūbu ilā يَتُوبُ إِلَى , sehingga maknanya adalah seorang hamba “kembali kepada Allah” setelah melakukan suatu ketidaktaatan atau dosa. Dan ketika kata tāba تَابَ atau yatūbu يَتُوبُ nya digunakan tanpa diikuti kata ilā إِلَى pun konteks nya sama. Seorang hamba “kembali dari…” dosanya.

Yang epic adalah…
Penggunaan kata yatūbu ‘alā يَتُوبُ عَلَى ketika fā’il (pelaku / subjek) nya adalah lafzh ul-jalālah Allah. Sehingga maknanya adalah Allah “kembali ke atas” hamba-Nya dengan rahmah dan ampunan. Maksudnya adalah, Allah menerima tawbah nya.

Yang epic adalah…
Ketika kita mendekati Allah sejengkal, Allah akan mendekat kepada kita sehasta.
Jika kita mendekati Allah sehasta, maka Allah akan mendekati kita sedepa.
Ketika kita mendatangi Allah dengan berjalan, Allah akan mendatangi kita dengan berjalan cepat [Lihat HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675].

Yang epic adalah…
Ketika kita meneteskan air mata istighfar dan memperbanyak memohon ampun kepada-Nya, maka Dia akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihan kita, memberikan kelapangan untuk setiap kesempitan, dan rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka [Lihat HR. Ibnu Majah No. 3819].

Allāhumma innaka ‘afuwwun, tuhibbu-l-‘afwa fa’fu ‘an-nī…

Referensi:
▪️Tafsīr As-Sa’di, Sūrah Al-Furqān ayat 71, Sūrah Al-Mā’idah ayat 39
▪️Madāriju-s-Sālikīn, 1/319-320
▪️Mu’jam Al-Ghaniy
▪️Mu’jam Al-Mu’āshirah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *