Sibuk dalam Kesenangan

Bayangkan jika tanah tempat kita berpijak, tak lagi hitam ataupun coklat warnanya, melainkan berupa butiran tepung putih misk murni. Dan kerikil-kerikilnya, bukanlah batu biasa, namun mutiara. Serta yāqūt, ruby, batu permata merah delima.

Lalu sungai-sungainya…
Bukanlah sungai dengan air yang payau. Namun sungai madu, susu dan khamr yang tidak memabukkan.


Senantiasa teduh…
Dengan pohon-pohon yang selalu berbuah.


Penghuninya, tidak tidur dan tidak butuh tidur.
Tak pernah merasa lelah.
Tak pernah merasa payah.
Seluruh urusan mereka adalah istirāhah.
Mereka senantiasa sibuk,
dalam kesenangan.

Referensi:
– An-Nihāyah fil-Fitan wal-Malāhim, Ibn Katsīr

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *