Referensi Multilingual

Pernah denger ngga nama ahli fisika Indonesia yang namanya misalnya Wawan Fisikawan?
Atau penulis terkenal yang namanya Rangga Ciptakata? Hehe…

Kayanya ngga pernah ya.
Nah kalo di English, itu ada yang namanya Aptronym. Yaitu nama orang, yang istimewanya bisa nge-match sama profesi, kondisi, atau karakter orang tersebut.

Contohnya pelari ternama asal Jamaika bernama Usain Bolt (Bolt artinya ledakan petir). Dan ini bukan julukan, tapi memang nama sejak lahir. Contoh lain misalnya penyair bernama William Wordsworth (Wordsworth artinya kata-kata berharga).

Dan Aptronym ini yang bakal ngerti keistimewaannya ya cuma orang yang ngerti bahasa tersebut.

Okeh, tapi kenapa tiba-tiba bahas masalah Aptronym sih?

Jadi, di postingan ini saya mau sedikit share tentang suatu gaya bahasa yang seperti Aptronym, yang ditemukan di dalam Al-Qur’ān. Yang merupakan salah satu dari mu’jizat linguistik Al-Qur’ān.

Yang Pertama

Yaitu penyebutan Nabi Zakariyyā ‘alayhissalām di Sūrah Maryam ayat 2:

ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُۥ زَكَرِيَّآ

Dzikru rahmati rabbika ‘abdahū zakariyyā.

“Ini adalah dzikir tentang rahmah Rabb-mu kepada hamba-Nya, Zakariyyā.”

Nabi Zakariyyā ‘alayhissalām adalah seorang nabi Banī Isrā’īl. Namanya dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Ibrani, adalah זְכַרְיָה (Zəḵaryā), yang secara harfiah (dalam bahasa Ibrani) artinya ‘the mention of the Lord‘ (dzikir / menyebut Rabb).

Dan ini ter-capture dengan begitu indah dan akurat di bagian awal ayat:
‘Dzikru rahmati rabbika’ ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ
(dzikir tentang rahmah Rabb-mu).
Yang merupakan arti harfiah dari nama Zakariyyā di dalam bahasa Ibrani.

Yang Kedua

Masih di Sūrah Maryam. Allah ‘azza wa jalla juga mengisahkan tentang Nabi Yahyā ‘alayhissalām.

يَٰيَحْيَىٰ خُذِ ٱلْكِتَٰبَ بِقُوَّةٍۖ وَءَاتَيْنَٰهُ ٱلْحُكْمَ صَبِيًّا

Yā yahyā khudz il-kitāba biquwwah. Wa ātaynāh ul-hukma shabiyyā.

”’Wahai Yahyā! Ambillah Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.’ Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahyā) selagi dia masih kanak-kanak…” [Sūrah Maryam: 12]

وَحَنَانًا مِّن لَّدُنَّا وَزَكَوٰةًۖ وَكَانَ تَقِيًّا

Wa hanānan min ladunnā wa zakāh. Wa kāna taqiyyā.

“…dan juga rasa kasih sayang (kepada sesama), dari Kami, dan juga kesucian (dari dosa). Dan ia pun seorang yang bertaqwa.” [Sūrah Maryam: 13]

Perhatikan kata حَنَانًا atau حَنَان ‘hanān’. Arti dari kata ini dalam Bahasa Arab adalah: ‘rasa kasih sayang’ atau compassion atau kindness. Dan kata ini begitu unik, karena hanya digunakan di ayat ini saja, pada saat membahas Nabi Yahyā ‘alayhissalām ini saja. Ngga ada penggunaan kata ini di ayat ataupun sūrah yang lain.

Dan Nabi Yahyā ‘alayhissalām ini juga seorang nabi Banī Isrā’īl. Namanya dalam bahasa Ibrani adalah יְהוֹחָנָן‎ Yəhôḥānān, yang secara literal dalam bahasa Ibrani artinya ‘The Lord has shown compassion‘ (Rabb telah menunjukkan kasih sayang).

Yang Ketiga

Kisah pembangkangan Banī Isrā’īl terhadap perintah Allah, di Sūrah Al-Baqarah ayat 93:

… خُذُوا۟ مَآ ءَاتَيْنَٰكُم بِقُوَّةٍ وَٱسْمَعُوا۟ۖ قَالُوا۟ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا …

…Khudzū mā ātaynākum biquwwatin wa-sma’ū. Qālū sami’nā wa ‘ashaynā…

“…’Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepada kalian semua dan dengarkanlah!’ Mereka menjawab, ‘Kami dengar dan kami tidak taat.’…”

Menariknya, kisah ini sebenarnya juga dikisahkan dalam Kitab Perjanjian Lama. Dalam Deuteronomy (Kitab Ulangan). Tapi di sini, dikisahkan bahwa mereka menjawab, “Kami dengar dan kami taat.

Ini bunyinya (Deuteronomy 5:27, NIV):
Go near and listen to all that the LORD our God says. Then tell us whatever the LORD our God tells you. We will listen and obey.
(Mendekatlah dan dengarkanlah apa yang difirmankan TUHAN kita. Kemudian, katakanlah apa yang TUHAN firmankan kepadamu. Kami akan mendengar dan taat.)

Pastinya ini adalah versi terjemahan dari kitab yang berbahasa Ibrani. OK, mari kita lihat kata bahasa Ibrani nya.

Dan kami dengar“: wə-šā-ma‘-nū וְשָׁמַ֥עְנוּ
Dan kami taat“: wə-‘ā-śî-nū וְעָשִֽׂינוּ
Inilah bunyi “kami dengar dan kami taat” dalam bahasa Ibrani.

Coba lihat kemiripannya secara bunyi.
[Wə-šā-ma‘-nū wə-‘ā-śî-nū] ➡️ Ibrani
Dengan [Sami’nā wa ‘ashaynā] ➡️ Arab

Sebuah sindiran menohok bagi mereka. Yang meng-klaim ‘kami dengar dan kami taat’, padahal aktualnya tidak taat.

Referensi-referensi multilingual seperti itu jelas merupakan mu’jizat linguistik yang luar biasa. Sesuatu yang mustahil untuk dibuat-buat oleh seorang nabi yang ummī (tidak bisa baca tulis) ﷺ. Dan hanya bisa berasal dari Rabb Semesta Alam. Yang Menguasai seluruh bahasa di dunia. Yang Mengetahui sejarah dengan sedetil-detilnya.

Catatan:
Dirangkum dan diterjemahkan dari channel YouTube Arabic 101, yang referensinya adalah penelitian dari Dr. Ali Ataie, yang merupakan peneliti biblical hermeneutics.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *