Puncak Karir Seorang Muslimah

Puncak karir seorang muslimah.
Bukanlah dengan menjadi supervisor. Atau manager. Atau CEO.

Puncak karirnya justru berada di rumah.
Menjadi seorang pendidik yang mencetak generasi masa depan. Yang mencetak para ‘ulamā’, pemimpin, pengusaha dan profesional muslim masa depan.

Mungkin umum di masyarakat, bahwa:

  • Menjadi ibu rumah tangga itu hina dan ngga membanggakan.
  • Wanita karir yang berpenghasilan tinggi itu mulia dan membanggakan.
  • Percuma pendidikan tinggi kalau ujung-ujungnya cuma jadi ibu rumah tangga.

Nah, mindset-mindset kaya gini tuh harus dibasmi dan diganti.

Seorang muslimah yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir haruslah mulai menyadari, bahwa:

  • Menetapnya seorang muslimah di rumahnya dan ketaatannya kepada suami (selama ketaatannya ngga keluar dari syari’at), adalah sebuah ‘ibādah yang nilainya amat sangat tinggi dalam pandangan Allah.
  • Menjadi wanita karir, apalagi kalo di sana ia ngga menutup auratnya dengan sempurna, ber-ikhtilāth dengan casual dengan para pria yang bukan mahramnya, becanda-becanda, ketawa-ketawa, memakai wewangian dan dandanan untuk tampil menarik di hadapan mereka, ini bukanlah suatu keutamaan. Tapi justru kehinaan dalam pandangan Allah.
  • Seorang ibu yang akan mendidik dan mencetak generasi masa depan itu ya memang harus berilmu dan berpendidikan tinggi. Bukankah ironis jika seorang ibu yang berpendidikan tinggi, namun memilih untuk menggunakan ilmunya di kantor, dan membiarkan anaknya dididik dan diasuh oleh babysitter yang ilmu dan pendidikannya lebih rendah?

Lalu bagaimana mungkin visi-visi besar itu tertanam di hati anak-anak? Jika sang ibu (dan juga ayah) tersibukkan oleh karirnya, hanya fokus di pemenuhan kebutuhan materi bagi anaknya, dan melupakan kebutuhan lain yang begitu mendasar.

Yaitu ilmu.
Kisah.
Inspirasi.
Companionship (persahabatan).
Visi.
Tujuan hidup.
Īmān.
Taqwā.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *