Pemutus Rantai

Mu’min adalah seorang pemutus rantai.
Rantai apa?

Rantai kezhaliman. Yang biasanya menular dari satu mata rantai ke mata rantai lainnya.

Ketika baru selesai shalat Jum’at atau shalat berjama’ah di masjid misalnya, lalu ternyata sandal hilang ada yang mencuri, betapa banyak yang memilih untuk meneruskan rantai kezhaliman sang maling. Ia pakai sandal orang lain yang ada di situ untuk pulang. Dengan dalih:
“Ya masa saya nyeker pulang ke rumah. Saya kan ngga salah, saya dizhalimi duluan koq.”

Dan kezhaliman ini berpotensi terus menular. Yang sandalnya tadi dipake, akhirnya mencuri lagi sandal yang lain. Lalu orang berikutnya. Dan berikutnya.

Namun jika kita mengaku beriman, putuskanlah rantai itu. Jangan teruskan. Kita bisa menempuh jalan halal untuk pulang. Bisa dengan bertanya ke pengurus DKM, apa ada sandal yang bisa dipinjam. Atau kalo memang ngga ada, ya pulang aja tanpa alas kaki.

Atau misalnya ketika menjadi seorang pedagang. Lalu ia banyak dizhalimi oleh supplier-supplier nya, atau oleh kurir / ekspedisi yang mengirimkan paket dari supplier. Entah itu dikirimi barang yang cacat. Atau quantity nya kurang. Atau pengirimannya telat, atau bahkan paketnya hilang, lalu mereka lepas tangan.

Betapa banyak pedagang yang memilih untuk bergabung dalam rantai kezhaliman, lalu meneruskan kezhaliman itu ke pembelinya. Barang cacat tetap dikirim ke pembeli, dengan alasan: “Dari suppliernya udah cacat koq. Bukan salah saya.”

Atau ketika pengiriman oleh kurir ke pembeli bermasalah. Paket terlambat atau bahkan hilang. Ia katakan kepada pembeli:
“Oh itu kan salah kurir, bukan salah saya. Tanya aja ke kurir.”
Betapa banyak pedagang yang begitu. Lepas tangan, ngga peduli, ngga membantu menanyakan dan mengurus ke kurir.

Dan rantai ini akan terus menyebar, hingga ada seseorang yang memutusnya.

Maka jadilah orang itu.
Jadilah seorang pedagang yang memisahkan barang yang cacat, meskipun dengan itu ia akan rugi. Atau ia jelaskan kecacatannya ke pembeli, untuk meminta ridha nya. Ia kurangi harganya meskipun akhirnya rugi.

Dan ketika kurir bermasalah dan lepas tangan pun, akan ia tunjukkan tanggung jawabnya kepada pembeli. Ia bantu urus dan tanyakan ke kurir. Dan jika perlu, ia ganti dengan barang baru, atau refund dananya ke pembeli.

Ia putus rantai itu. Meskipun berat. Meskipun rugi besar. Meskipun kesusahan menantinya.

Untuk Allah.
Untuk mencari ridha-Nya. Untuk mencari keselamatan di akhirat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *