Orang Baik yang Selalu Tersakiti?

Pada zaman dahulu.
Saya masih inget. Waktu masih jadi mahasiswa teknik mesin di kampus. Ada seorang senior, jauh di atas saya, pernah bilang gini,

Ka, biasanya orang baik itu selalu tersakiti.

Waktu itu saya cuma bisa meng-iyakan. Karena memang faktanya seringkali begitu. Sehingga kesannya, hidup orang baik itu seringkali memang tragis.

Alhamdulillāh setelah beberapa tahun terakhir ini menuntut ilmu syar’i. Semua begitu terang benderang. Dan mindset “kelam” bahwa “orang baik itu selalu tersakiti” ini rasanya perlu dilengkapi dan diubah cara pandangnya.

Karena memang ngga cukup hanya dengan menjadi orang baik. Kita harus jadi orang baik, KARENA ALLAH. Bukan yang lain.

Karena kalo kita melakukan kebaikan demi seseorang, demi organisasi, demi bangsa, demi negara, atau demi apapun selain Allah, maka kebaikan itu akan menjadi begitu rapuh. Fragile. Rawan pecah karena kecewa.

Kecewa karena ternyata orang yang kita baiki ngga berterima kasih. Lupa dengan kebaikan kita. Menelantarkan kita. Atau malah menyakiti dengan kata-kata. Dan bahkan menzhalimi dengan tindakan nyata.

Kecewa karena semua pengorbanan kita sekian lama, semua jasa kita, kepada seseorang, organisasi, atau bangsa dan negara, ternyata tak terbalas. Jasanya dilupakan atau dipandang sebelah mata. Diremehkan. Ketika kita udah ngga diperlukan, dibuanglah kita begitu saja.

KECEWA. Sehingga akhirnya kita berhenti menjadi orang baik.
Fragile kan?

Maka tinggalkanlah itu semua.
Cari lah hanya Wajah-Nya.
Kejarlah Ridha-Nya.

Berharap lah kepada Rabb yang tak akan menyia-nyiakan sedikit pun kebaikan kita. Yang tahu persis jatuh bangunnya kita dan semua perjuangan kita. Yang akan membalas kebaikan kita dengan ganjaran yang jauh-jauh lebih banyak, lebih mahal, dan lebih exclusive dari recehan yang manusia berikan di dunia. Ganjaran yang tak pernah dilihat mata. Tak pernah didengar telinga. Dan tak pernah terlintas di benak manusia.

Maka jadilah orang baik, untuk-Nya.
Sehingga hati kita lebih tahan banting dan ngga rapuh dengan kekecewaan. Sehingga bagaimana pun sikap orang-orang, kita akan terus melangkah di jalan kebaikan.

Maka jadilah mereka yang mengatakan,

Innamā nuth’imukum liwajhillāhi lā nurīdu minkum jazā’an wa lā syukūrā. Innā nakhāfu min Rabbinā yawman ‘abūsan qamtharīrā.

(Sungguh kami memberimu makan, hanya untuk mencari ridha Allah. Kami tidak mengharap balasan ataupun terima kasih darimu. Sungguh kami takut kepada Rabb kami, pada Hari ketika orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.)

Fawaqāhumullāhu syarra dzālikal-yawmi walaqqāhum nadhratan wa surūrā.

(Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan pada Hari itu, dan memberi mereka keceriaan dan kegembiraan.)
[Sūrat ul-Insān: 9-11]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *