Tumbuhan itu begitu ajaib.
Suatu mini food factory (pabrik makanan mini) super canggih yang tersebar di seluruh muka bumi, yang bisa memproduksi makanan, hanya dengan bermodalkan air, udara (karbondioksida nya), tanah (mineral nya), dan sinar matahari. Melakukan proses fotosintesis. Mengubah material inorganik menjadi organik. Sehingga seluruh manusia dan seluruh hewan, bisa memiliki makanan untuk hidup.
Tanpa tumbuhan,
Tamatlah riwayat manusia dan hewan.
Karena kita ngga bisa makan batu, besi, emas, dan tanah.
Ngga ada satu pun pabrik makanan ataupun mesin buatan manusia, yang bahan bakunya cuma air, udara, dan tanah. Yang ‘bahan bakarnya’ cuma sinar matahari. Yang mampu melakukan proses fotosintesis.
“Tapi kan sekarang manusia udah bisa bikin makanan sintetik, daging yang dibuat di lab, fermentation based food (susu sintetik, keju sintetik, dsb)?”
Well, nih saya copas hasil diskusi saya sama Om Chat GPT ngobrolin tentang skala produksi makanan sintetik.
Pertanyaan
What is the scale of current synthetic food production? In a hypothetical case where all plants suddenly disappeared, how many people the food factory can feed?
Seberapa besar sih skala produksi makanan sintetik saat ini? Kalo misalnya tiba-tiba aja seluruh tumbuhan menghilang, makanan yang dibuat di pabrik makanan sintetik bakal cukup untuk berapa orang?
GPT
If all plants suddenly disappeared, the food system would face an unprecedented crisis. Synthetic food production in its current state would not be able to feed the global population, which is over 8 billion people.
Jika semua tumbuhan tiba-tiba menghilang, maka sistem pangan akan menghadapi krisis global dahsyat yang tak terbayangkan. Produksi makanan sintetik saat ini tidak akan mampu menyuplai makanan untuk 8 milyar lebih populasi manusia di seluruh dunia.
Lab-Grown Meat: Even if ramped up quickly, current production could only feed a fraction of the population. The scalability to feed billions would require massive infrastructure and resources, which do not currently exist.
Daging yang dibuat di lab: Bahkan jika produksinya ditingkatkan secepat mungkin, produksinya hanya akan bisa cukup untuk sebagian yang sangat kecil dari populasi. Skalabilitas untuk menyuplai makanan milyaran orang akan membutuhkan infrastruktur massif yang saat ini tidak ada.
Fermentation-Based Foods: This technology might be more adaptable since it can use inputs like CO2, water, and electricity. However, even in the best-case scenario, it would take years to build enough capacity to feed billions.
Makanan berbasis fermentasi: Teknologi ini mungkin lebih bisa beradaptasi karena bisa menggunakan input seperti karbondioksida, air, dan listrik. Tapi, bahkan dalam skenario terbaiknya pun, butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun fasilitas dengan kapasitas yang cukup untuk milyaran orang.
Current Capacity: The synthetic food industry likely has the capacity to feed millions at best, not billions. Scaling up to feed billions would require technological breakthroughs, massive investment, and time.
Kapasitas saat ini: Industri makanan sintetik saat ini paling banyak hanya punya kapasitas makanan untuk jutaan orang, bukan milyaran orang. Meningkatkan skala produksi untuk milyaran orang akan membutuhkan terobosan teknologi, investasi yang massif, dan waktu.
Post-Plant Extinction: In the short term, billions would face starvation. Over several years, with intense global cooperation and rapid technological advancements, synthetic food production might ramp up to feed hundreds of millions or potentially billions, but this is speculative and assumes optimal conditions.
Ketika Tumbuhan Punah: Dalam jangka waktu singkat, milyaran orang akan kelaparan. Dalam jangka waktu bertahun-tahun, jika kerja sama global bisa intensif dan perkembangan teknologi bisa tumbuh cepat, produksi makanan sintetik mungkin bisa ditingkatkan sehingga cukup untuk beberapa ratus juta orang, atau mungkin bisa menembus milyaran. Namun ini spekulatif dan mengasumsikan kondisi optimal.
In summary, while synthetic food has great potential, the current scale of production is insufficient to replace the entire food system, especially in a sudden crisis where all plants disappear.
Singkatnya, meskipun makanan sintetik itu punya potensi, skala produksi saat ini sangatlah tidak cukup untuk menggantikan seluruh sistem produksi pangan, terutama ketika terjadi krisis yang tiba-tiba, di mana semua tumbuhan punah.
Ini kita belum ngomongin kurangnya nutrisi dalam makanan sintetik dan potensi-potensi negatifnya terhadap kesehatan. Ngga ngomongin berapa jumlah hewan yang harus dikasih makan untuk menjaga ekosistem. Juga belum ngomongin fungsi tumbuhan sebagai paru-paru dunia, memproduksi oksigen yang kita butuhkan untuk bernafas.
Maka di setiap saat kita sedang menyantap makanan kita, bersyukurlah. Meskipun ketika makanannya seadanya, kurang enak atau kurang pas di lidah, bersyukurlah. Karena semuanya berasal dari proses super kompleks dari suatu mesin ajaib ciptaan Allah yang bernama tumbuhan.
Tanpa tumbuhan, maka tak ada tepung, tak ada daging, tak ada telur, tak ada minyak goreng, tak ada gula, tak ada makanan.
Kata Allah dalam Sūrah ‘Abasa,
Falyanzhur il-insānu ilā tha’āmih’.
“Maka hendaklah manusia memperhatikan makanan mereka.”
[Sūrah ‘Abasa: 24]
Dan juga pada Sūrah Al-Wāqi’ah,
Afara’aytum mā tahrutsūn? A’antum tazra’ūnahū am nahnuz-zāri’ūn?
“Pernahkah engkau memperhatikan benih yang engkau tanam. Engkau kah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?”
[Sūrah Al-Wāqi’ah: 63-64]
Maka di setiap saat kita makan,
Bersyukurlah kepada Rabb Yang Memiliki Langit dan Bumi. Yang telah memberi kita rizqi. Yang telah mengatur semua proses super kompleks di balik tersedianya makanan. Yang telah menciptakan mesin ajaib bernama tumbuhan.



