Menanamkan kejujuran pada anak itu in syā Allāh caranya banyak. Salah duanya yang menurut kami cukup efektif itu:
- Keteladanan
- Apresiasi
Akan sangat sulit untuk menanamkan kejujuran ke anak-anak, kalau kita-nya sendiri sebagai orang tua terus-menerus mempertontonkan sikap-sikap yang ngga jujur.
Udah janji mau ngasih coklat besok misalnya. Eh… Tapi besoknya ngga ditepati, ngga berusaha menepati, atau pura-pura lupa, atau ngga meminta maaf ketika beneran lupa.
Atau terbiasa bilang gini ke anak misalnya:
“Eh, tapi jangan bilang-bilang ke ayah kita beli coklat ya.”
Sekilas itu terlihat remeh temeh, tapi anak akan merekam itu, meneladani dan menirunya. Dan bahkan bisa dibawa ke level ketidakjujuran dan kebohongan yang lebih tinggi. Plus anak bisa ngeles gini nanti kalo dinasehati, “Ah ibu / ayah juga suka bohong A B C D“.
Jadi, kalo kita mau kejujuran nempel di hati anak kita, yang wajib pertama kali kita perbaiki adalah kejujuran kita. Pertontonkanlah sebanyak mungkin kejujuran kita di hadapan mereka.
Misalnya ketika beli sesuatu ke minimarket, terus pas kita liat di struknya ternyata ada item yang belum ke-scan di kasir, atau ternyata kembaliannya kelebihan. Maka tunjukkanlah ke anak kita bahwa kita punya komitmen penuh untuk balik lagi ke kasir dan membayar kekurangannya. Dan bilang ke anak kita bahwa barang ini, atau makanan ini, yang belum ter-scan ini, haram untuk kita konsumsi sebelum kita jadikan dia halal. Meskipun itu hanya ratusan rupiah.
Kalo kita pesen makanan online misalnya. Dan ternyata makanan yang datang kelebihan. Pesen 2 porsi, yang dateng 4 porsi. Meskipun ini misalnya murni kesalahan pedagangnya. Maka tunjukkanlah bahwa kita serius menghubungi pedagangnya, mentransfer kekurangannya, atau meminta kehalalannya. Dan jangan dimakan kelebihannya sebelum diminta kehalalannya. Setelah misalnya pedagangnya bilang, “Oh iya Bu/Pak, maaf itu tadi salah saya ketuker sama pesenan lain. Ngga apa-apa saya ikhlas ridha koq, ngga perlu transfer kekurangannya“.
Baru kita makan kelebihannya.
Dan lebih baik lagi kalo misalnya kita lagi punya rizqi, dan kita tau lokasi pedagangnya. Kita datangi aja terus kita kasih kekurangan uangnya.
Bilang ke anak kita bahwa walopun ngga ada orang yang tau, tapi Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat segalanya.
Kalo sikap kita malah begini:
“Ah, itu kan salah kasirnya/pedagangnya, bukan salah kita. Ngapain kita bayar.”
Atau begini:
“Ngapain bayar, ngga ada yang liat koq.”
Ya siap-siap aja ketidakjujuran tertanam di hati anak kita.
Yang kedua.
Berikan apresiasi kalau anak kita menunjukkan sikap jujur.
Kalo misalnya pas kita lupa ngga ngecek struk belanja, atau pas lagi buru-buru. Terus di rumah, anak kita ngecek struknya dan bilang misalnya, “Eh… Bu / Yah, koq kopinya ngga ada di struk?“. Maka kasihlah apresiasi dan jempol. Setelah kita balik ke kasir dan bayar kekurangannya, apresiasi lah sikap jujur anak. Bisa dengan hadiah misalnya, “Mantap mā syā Allāh. Atas jasa kamu nemuin kopi yg belum ke-scan ini, Ibu / Ayah kasih kamu coklat“.
Kalo kita malah bilang:
“Yah… Kamu koq malah ngecek struk. Nambah kerjaan ibu / ayah aja jadinya harus balik ke kasir”.
Ya siap-siap aja ketidakjujuran tertanam di hati anak kita.
Masalah prestasi akademis misalnya.
Jangan sampe kita tanpa sadar salah meng-apresiasi. Cuma mengapresiasi hasil semata, dan ngga peduli gimana cara memperolehnya. Pokoknya ranking 1. Pokoknya nilai bagus. Langsung dapet hadiah.
Dan ketika anak kita menunjukkan sikap jujur, kita biasa-biasa aja. Cuek. Ngga merasa itu suatu prestasi. Ya siap-siap aja mereka merasa hasil itu yang utama, kejujuran nomor dua.



