Kenapa Yesus dipanggil ‘Īsā عِيسَى di dalam Al-Qur’ān?
Barangkali ada kenalan yang berkeyakinan Nasrani yang nanya gini. Atau barangkali anak-anak atau anggota keluarga nanya kenapa Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām disebut Yesus oleh orang Nasrani. Mudah-mudahan postingan ini bisa membantu menjawab ya.
Jadi gini.
Sebenernya pertanyaan yang lebih tepat adalah: Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām itu sebenernya berkebangsaan apa? Bahasa ibu nya apa? Dan nama original dalam bahasa aslinya siapa?
Memang nama Yesus atau Jesus itu sangat masyhur dikenal, terutama pastinya bagi orang Nasrani di seluruh dunia. Tapi, the question is: Apa iya itu nama dalam bahasa aslinya?
Faktanya, Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām itu berbahasa Aramaic (Bahasa Aram) atau kadang disebut juga Syriac. Dan ini yang bilang para teolog dari kalangan Nasrani sendiri.
Silahkan cek statement dari teolog Katolik Lucien Deiss yang menulis:
“Jesus’ mother tongue was Aramaic.”
(Bahasa ibu Yesus adalah Aramaic)
Referensi:
Deiss, L. (1996). Joseph, Mary, Jesus (Medeleine Beaumont, Trans.). Collegeville, Minnesota: The Liturgical Press. p. 8
Dan juga Robert H. Stein:
“Gustav Dalman at the turn of the century clearly demonstrated that the native tongue of Jesus was Aramaic.”
(Gustav Dalman, pada saat pergantian abad, dengan jelas menunjukkan bahwa bahasa asli Yesus adalah Aramaic)
Referensi:
Stein, R. H. (1994). The Method and Message of Jesus’ Teachings. Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press. p. 4
Dan bahkan Sang-ll membuat statement yang lebih tegas lagi:
“…the consensus of modern New Testament scholars…Jesus spoke Aramaic as his matrix language.”
(… konsensus dari para ahli Kitab Perjanjian Baru… Bahasa ibu dari Yesus adalah Aramaic)
Referensi:
Sang-Il Lee (2012). Jesus and Gospel Traditions in Bilingual Context: A Study in the Interdirectionality of Language. p. 342
OK. Jadi clear ya. Bahasanya Aramaic.
Next question: Siapa nama Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām dalam Bahasa Aramaic? Dan dari mana asal nama Yesus atau Jesus?
Karena ketika beliau tinggal di Galilee (Galilea), Palestina, ngga dikenal tuh huruf alfabet latin “J”. Bahasa yang digunakan oleh orang biasa di daerah ini ya Aramaic. Dan bahasa Ibrani (Hebrew) juga hanya digunakan oleh kalangan elit terpelajar, yang digunakan oleh golongan Yahudi Farisi (Pharisees) untuk keperluan studi dan liturgis.
Dalam bahasa Ibrani, beliau disebut Yeshua atau Yehoshua (ישוע atau יהושע). Dan nama ini kemudian diadaptasi oleh bahasa Yunani menjadi Iesus (Ἰησοῦς), seiring para penulis Kitab Perjanjian Baru, yang berbahasa Yunani, mulai menulis tentang beliau.
Lalu setelah sekian lama, nama ini kemudian dipinjam oleh bahasa Latin. Lalu, setelah Bahasa Inggris (English) mulai menjadi bahasa yang terkemuka yang akhirnya menggantikan bahasa Latin, barulah nama Iesus (atau dalam bentuk genitif: Iesu) berubah menjadi Jesus.
Jadi rutenya lumayan panjang sebenernya:
Aramaic
Ibrani
Yunani
Latin / English
OK, balik ke pertanyaan yang belum terjawab. Siapa nama beliau dalam bahasa Aramaic?
Jadi, di bagian Timur (Eastern Aramaic), nama yang digunakan adalah ‘Ishho. Sedangkan di bagian Barat (Western Aramaic) namanya adalah Yeshu. Seperti dijelaskan dalam Ensiklopedia Britanica:
“One very tangible difference appears in the fact that the name Jesus was by the East Syrians written and pronounced Isho`, by the West Syrians Yeshu.”
Referensi:
The Encyclopaedia Brittanica (1911), 11th Edition. Cambridge, England: University Press.; See also footnote 8, Against Marcion I. in St. Ephraim’s Prose Refutations of Mani, Marcion, and Bardaisan.
Dan perhatikan statement para peneliti berikut.
Profesor Sidney Griffith menulis:
“Of the many explanations for the form of Jesus’ name as it appears in the Qur’an, the most reasonable one from this writer’s point of view is that it reflects an Arabic speaker’s spelling of what he hears in an Arabic articulation of the common East Syrian form of the name: Isho’.”
(Dari sekian banyak penjelasan mengenai bentuk nama Jesus yang muncul di dalam Al-Qur’ān, yang paling masuk akal dari sudut pandang penulis, yaitu bahwa ini mencerminkan pengucapan orang Arab, dengan artikulasi Arabnya, untuk bentuk nama Suriah Timur: Isho’)
Referensi:
Griffith, S. H. (2013). The Bible in Arabic: The Scriptures of “the People of the Book” in the Language of Islam. Princeton, New Jersey: Princeton University Press. p. 84 Fn. 64
Dan Profesor Misiologi di Universitas Utrecht, Jan A. B. Jongeneel menulis:
“The Qur’an refers to Jesus as ‘Isa al-Masih. This Arabic expression appears to have originated from the Nestorian Syriac, Isho Mshiha.”
(Al-Qur’ān menyebut Jesus sebagai ‘Isa al-Masih. Sebutan dalam bahasa Arab ini kemungkinan besar berasal dari bahasa Nestorian Syriac, Isho Mshiha)
Referensi:
Jongeneel, J. A. B. (1989). Jesus Christ in World History: His Presence and Representation in Cyclical and Linear Settings. Frankfurt: Peter Lang Internationaler Verlag der Wissenschaften. p. 128
Jadi, sebutan Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām di dalam Al-Qur’ān itu justru jalur adaptasi bahasanya lebih pendek, langsung dari bahasa aslinya:
Aramaic
Arab
Semoga bermanfaat ![]()
Catatan:
Ditulis ulang dan dirangkum dalam Bahasa Indonesia dari tulisan asli “Is ‘Isa a fake name of Jesus invented by Islam?” oleh Ibn Anwar, BHSc (Hons.), MCollT.



