Sering kita temui saat ini.
Dari kalangan mereka yang baru mulai belajar agama, maupun yang udah lama.
Habit saling menembakkan ‘ilmu.
Suami menggempur istrinya dengan āyāt, hadīts, dan perkataan ‘ulamā’ bahwa istri yang shālihah itu harus begini, begitu, A, B, C, X, Y, dan Z. Harus seperti Khadījah, ‘Āisyah, Fāthimah, dan para shahābiyāt yang lain radhiyallāhu ‘anhunna.
Istri pun melancarkan counter attack dengan dalā’il yang lebih banyak. Plus serangan tak terduga macam gini:
“Gimana ceritanya aku bisa seperti para shahābiyāt kalo suaminya ngga kaya Rasūlullāh ﷺ dan para shahābah radhiyallāhu ‘anhum?”
Para orang tua, setelah belajar mengenai kisah Uwais Al-Qarni, langsung menembakkan kisahnya kepada anak-anaknya agar mereka lebih berbakti dan bisa mencontoh Uwais Al-Qarni.
Para anak pun melancarkan serangan balik. Bagaimana mungkin kami seperti Uwais Al-Qarni kalau ayahnya ngga seperti Luqmān dan ibunya ngga seperti Maryam?
Terus-menerus saling tembak dan saling menuntut. Dengan hasil akhir yang ngga efektif dan tujuan yang ngga tercapai.
Dalam kajian Kitāb Tadzkirat us-Sāmi’ wal-Mutakallim fī Adab il-‘Ālim wal-Muta’allim, Ustādz Nuzul Dzikri hafizhahullāh berpesan kepada para penuntut ilmu.
Bahwa kalo kita mau ‘ilmu yang kita dapat itu jadi ‘ilman nā’fian (ilmu yang bermanfaat) dan juga berkah, maka jadikanlah niat utama dalam menuntut ‘ilmu yaitu untuk dipahami dan diamalkan diri sendiri. Untuk memperbaiki diri. Untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan untuk ditembakkan ke orang lain.
Tentu ada momennya ketika ‘ilmu tersebut perlu diberikan sebagai nashīhah. Namun bungkuslah ia dengan adab. Dengan teladan dan kasih sayang.



