Banū Isrā’īl – Bagian 6

ℹ️ Bagi yang belum membaca, silahkan untuk menyimak Bagian 5


Laut Merah yang Terbelah

Tumbuh dewasa di istana▪️Dianugrahi tubuh yang kuat▪️Tak sengaja membunuh orang Mesir ketika membela seorang Banī Isrā’īl▪️Melarikan diri keluar Mesir karena khawatir Fir’aun akhirnya mengetahui perbuatannya dan keberpihakannya, sehingga semakin curiga dan yakin bahwa ia adalah bagian dari sesuatu yang luar biasa yang selama ini diwaspadai▪️Tak tahu melangkah ke mana, ternyata langkah kakinya mengarahkannya ke Negeri Madyan (sebuah wilayah Bangsa Arab; kini wilayah Tabūk di Arab Saudi)▪️Bertemu dengan Nabi Syu’aib ‘alayhissalām di sana

▪️Bekerja untuknya▪️Menikah dengan anak perempuannya▪️Berkeluarga selama bertahun-tahun di Madyan▪️Meminta izin kepada Nabi Syu’aib untuk berpisah, meninggalkan Madyan, menuju ke Mesir karena rindu dengan keluarganya di sana▪️Bersama istri dan anaknya, berjalan dengan sembunyi-sembunyi dan memilih jalan yang tidak umum dilalui▪️Melihat api yang menyala-nyala di lereng gunung Thūr▪️Berbicara secara langsung dengan Rabb Semesta Alam▪️Diangkat menjadi Rasūl▪️Diberi mu’jizat▪️ Diperintahkan untuk menda’wahi musuhnya, Fir’aun▪️Meminta kepada Rabb-nya untuk juga mengangkat saudaranya Hārūn sebagai Rasūl, karena ia memiliki kekurangan dalam lisannya, sedangkan Nabi Hārūn ‘alayhissalām lebih fasih dan lancar dalam berbicara▪️Dan Rabb-nya pun mengabulkannya.


Maka kembalilah Nabi Mūsā ‘alayhissalām, ke Mesir. Untuk memberikan nasihat, kepada penguasa berdarah dingin, dan rezim yang membunuh begitu banyak bayi. Agar ia membebaskan Banī Isrā’īl dari perbudakan. Agar ia mengakhiri perbuatannya yang melampaui batas. Agar bangsa Mesir berhenti dari kepercayaan bahwa para Fir’aun adalah titisan dewa yang harus disembah. Agar mereka menyembah Tuhan Yang Sebenarnya. Rabb Seluruh Alam. Rabb Yang Menciptakan Langit dan Bumi. Untuk mengabarkan bahwa ia adalah utusan dari Rabb Seluruh Alam itu.

Dan meskipun penyampaian Nabi Mūsā sudah dibantu oleh Nabi Hārūn, reaksi Fir’aun kurang lebih macam begini:

“Are you insane? (Kamu gila ya?)”
“Ngga tau terima kasih. Dulu kami yang membesarkan kamu. Dengan cara ini kamu balas budi? Dengan membunuh orang Mesir dan lari?”

Reaksi Fir’aun jelas skeptis, penuh kesinisan, dan merendahkan.
Padahal, kebaikan yang disebut Fir’aun itu cuma satu kebaikan aja. Dan hanya untuk satu orang Banī Isrā’īl.

Padahal, orang Mesir yang terbunuh cuma satu orang aja. Itu pun ngga sengaja.

Di sisi lain, ada berapa banyak bayi Banī Isrā’īl yang sengaja dibunuh? Ada berapa banyak Banū Isrā’īl yang nyata-nyata ditindas dan diperbudak?

Playing victim dan so’-so’an merasa hero yang berjasa. Sebuah gaya narasi hina yang ditiru oleh para Zionis di masa kita.

Maka mu’jizat dan bukti nyata pun ditunjukkan. Agar mereka yakin bahwa pesan yang dibawa Nabi Mūsā ‘alayhissalām adalah kebenaran. Sebuah tongkat yang berubah menjadi ular besar yang sangat nyata. Dan tangan Nabi Mūsā ‘alayhissalām yang menjadi putih bercahaya. Dua mu’jizat dari total 9 mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Mūsā ‘alayhissalām.

Reaksi Fir’aun melihat 2 mu’jizat itu kurang lebih begini (meskipun nyata-nyata menggigil ketakutan):

“Wah wah wah, ternyata kamu sekarang penyihir ulung ya.”

Bukannya beriman, malah menuduh Nabi Mūsā penyihir. Bukannya percaya dan tunduk, malah mengumpulkan seluruh penyihir terbaik di Mesir untuk menandingi Nabi Mūsā ‘alayhissalām.

Dan ketika penyihir-penyihir Fir’aun takluk, tunduk bersujud menyatakan keimanan. Ketika kebenaran jelas terlihat di depan mata. Bukanlah iman yang hadir di hati Fir’aun dan para pembesar Mesir, melainkan pendustaan, penolakan dan keangkuhan.

Bunuh semua anak laki-laki mereka yang beriman kepada Mūsā.” (Agar tak ada lagi pemberontakan Banī Isrā’īl.)

Maka 6 mu’jizat berikutnya, yang berupa ‘adzab, pun dikirim.

Kekeringan, musim kemarau bertahun-tahun, dan kurangnya buah-buahan▪️At-Thūfān: badai, hujan deras, banjir, dan angin kencang▪️Al-Jarād: sejumlah besar belalang yang menyerang tanaman dan menggerogoti rumah & bangunan▪️Al-Qummal: hewan-hewan kecil seperti ulat/kutu yang keluar dari hasil pertanian▪️Adh-Dhafādi’: kawanan katak yang menyerbu istana Fir’aun dan rumah-rumah kaumnya, hingga masuk ke dalam makanan dan bejana▪️Ad-Dam: sungai Nil yang berubah menjadi darah dan mencemari sumber air minum

Dan hanya Fir’aun dan kaumnya lah yang merasakan. Sedangkan Banū Isrā’īl sama sekali tidak merasakannya.

Apakah setelah itu mereka akhirnya beriman?

Sayang sungguh sayang. Kesombongan dan keangkuhan telah mengeraskan hati mereka. Jika terdengar kabar ada orang Mesir yang menyatakan keimanan, maka kekerasan pun berbicara. Bala tentara Fir’aun tak segan-segan memaksa mereka untuk meninggalkan keimanannya dengan jalan kekerasan.

Turunlah perintah Allah kepada Nabi Mūsā ‘alayhissalām untuk membawa seluruh Banī Isrā’īl keluar meninggalkan Mesir, menuju ke Negeri Syam. Ke kampung halaman nenek moyang mereka. Ke Bait ul-Maqdis. Tanah yang telah dijanjikan. The promised land.

Diam-diam mereka beranjak pergi di malam hari agar tidak dikejar oleh tentara Fir’aun.

Namun langkah-langkah mereka terdengar dan terendus. Dan akhirnya sampai ke telinga Fir’aun. Ia pun begitu murka dan mengerahkan tentaranya dengan jumlah sangat besar untuk mengejar mereka.

Banū Isrā’īl begitu khawatir dan takut akan terkejar. Dan ketika matahari mulai terbit. Mereka telah sampai di tepi Laut Merah. Di lokasi yang diperintahkan untuk menyebrang.

Tapi bagaimana mungkin mereka bisa menyebrangi lautan tanpa kapal?

Berkali-kali mereka coba untuk menerobos lautan dengan kudanya. “Apa mungkin lautan bisa disebrangi sebagaimana diwahyukan kepada Mūsā?”, kata mereka.

“Wahai utusan Allah. Apa benar ini tempat yang diperintahkan?”, tanya mereka.

Nabi Mūsā ‘alayhissalām menjawab, “Benar.”

Keadaan makin sulit dipahami. Dan di saat yang sama, pasukan Fir’aun mulai terlihat di kejauhan. “Kita akan tersusul!”

Kallā! Inna ma’iya Rabbī sayahdīn.
Jawab Nabi Mūsā ‘alayhissalām.
“Sekali-kali tidak akan tersusul! Sungguh Rabb-ku bersamaku. Dan Dia akan memberikan petunjuk.”

Ketika di depan ada Laut Merah yang terbentang. Di kiri-kanan ada gunung terjal yang sulit didaki. Dan di belakang ada Fir’aun dan pasukannya yang mengejar di kejauhan. Mereka telah terpojok dan tak tahu harus ke mana.

Datang lah petunjuk dari Rabb Semesta Alam,
“Idhrib bi-‘ashākal-bahr!” Pukullah laut itu dengan tongkatmu!

Maka datanglah mu’jizat ke-9.
Terbelahlah Laut Merah. Bagai tebing curam di pegunungan. Yang setiap belahannya bagaikan gunung yang begitu besar. Terbelalak lah seluruh mata, melihat tanda kebesaran Allah yang begitu luar biasa. Memuncaklah keimanan orang-orang beriman, karena telah datang pertolongan-Nya. Di persimpangan terakhir ini. Di saat-saat penghabisan ini.

Mereka pun bisa melintas dan menyebrang lautan dengan selamat. Sedangkan di belakang, Fir’aun dan seluruh pasukannya Allah tenggelamkan dalam kekafiran.

Catatan

Ini adalah sebuah pelajaran penting bagi kita yang telah menyatakan diri untuk beriman. Bagi setiap mu’min yang berhijrah di jalan Allah. Bagi mereka yang meninggalkan sesuatu karena Allah. Bahwa pertolongan Allah itu seringkali datang di persimpangan terakhir. Di saat-saat penghabisan. Di saat kita sudah mentok dan hampir berputus asa.

Untuk menguji iman kita.
Akankah ia bertahan hingga ujung perjalanan? Ataukah ia akan berbalik ke belakang?

Sejarah menjadi saksi, bahwa orang sabar itu selalu minoritas. Karena begitu berat dan begitu sulitnya untuk tetap bertahan dan tetap tawakkal hingga persimpangan terakhir.

Maka tetaplah berjuang. Tetaplah ber-ikhtiar di jalan yang telah Allah halalkan, hingga titik darah penghabisan.

Referensi:
Qashash ul-Anbiyā’, “Kisah Para Nabi”, Ibnu Katsīr
Tafsīr ul-Qur’ān il-‘Azhīm, Ibnu Katsīr, Sūrat usy-Syu’arā’, Sūrat ul-A’rāf
Nasihat Ustādz Muhammad Nuzul Dzikri hafizhahullāh

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *