Eka Pratama

Sepuluh Ribu Cara untuk Gagal

Begitu banyak muslim (sayangnya), yang baru dua atau tiga kali gagal saja sudah menyerah. Menawarkan dagangan sekali, dua kali, tiga kali, ngga ada yang beli, menyerah terus berhenti. Bayangkan jika Edison berharap bisa menciptakan bola lampu, hanya dengan 3 kali percobaan. Padahal Thomas A. Edison membuat 10 ribu prototype electric bulb yang gagal, sebelum akhirnya berhasil. Dan […]

Sepuluh Ribu Cara untuk Gagal Read More »

Hijrah

Berkeluh Kesah di Tempat yang Salah

Jangan habiskan waktumu, untuk menjelaskan dirimu dan permasalahan-permasalahanmu kepada manusia. Karena ketika mereka tidak memahaminya, engkau akan kecewa. Dan meskipun mereka mencoba berempati, mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui setiap lika-liku kehidupan, setiap beban yang engkau rasakan, setiap badai yang menerjang, yang engkau hadapi setiap harinya. Karena mereka memang hanya manusia, yang tidak mengetahui segalanya.

Berkeluh Kesah di Tempat yang Salah Read More »

Hijrah

Kesabaran dan Kemenangan

Sesungguhnya Allah menjadikan kesabaran sebagai kedermawanan yang tidak pernah terputus, sebagai pedang yang tajam yang tidak mempan dihancurkan, sebagai tentara yang menang dan tidak pernah kalah, sebagai benteng yang tidak pernah runtuh. Kesabaran dan kemenangan merupakan dua saudara kandung. Allāh telah memuji orang-orang yang sabar dalam kitab-Nya dan mengabarkan bahwasanya Dia akan memberikan ganjaran atas

Kesabaran dan Kemenangan Read More »

Hijrah

Dārus-salām

Dārus-salām…Land of peace, negeri kedamaian. Inilah negeri yang tak pernah lenyap. Kerajaan yang begitu besar, seluas langit dan bumi. Para penduduknya saling bercerita, dan bernostalgia. Tentang apa yang mereka alami dulu di dunia. Tentang perjuangan, ketaatan, dan kekhilafan mereka. Dan bagaimana Allah mengampuni mereka. Serta menyelamatkan mereka, dari teman-teman buruk, yang hampir saja mencelakakan mereka,

Dārus-salām Read More »

Bukan Sekedar Paragraf

Sibuk dalam Kesenangan

Bayangkan jika tanah tempat kita berpijak, tak lagi hitam ataupun coklat warnanya, melainkan berupa butiran tepung putih misk murni. Dan kerikil-kerikilnya, bukanlah batu biasa, namun mutiara. Serta yāqūt, ruby, batu permata merah delima. Lalu sungai-sungainya…Bukanlah sungai dengan air yang payau. Namun sungai madu, susu dan khamr yang tidak memabukkan. Senantiasa teduh…Dengan pohon-pohon yang selalu berbuah.

Sibuk dalam Kesenangan Read More »

Bukan Sekedar Paragraf

Al-Firdaus

Al-Firdaus. Tertinggi dari seratus tingkat yang Allāh ciptakan. Yang jarak antar setiap dua tingkatnya, sejauh perjalanan seratus tahun. Highest garden. Jannah tertinggi yang telah Allāh siapkan untuk para pemenang. Yang khusyū‘ di dalam shalatnya. Serta memelihara dan menjaga waktu-waktunya. Menjauhkan dirinya, dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna. Menunaikan hak para dhu’afā‘ yang ada pada hartanya. Mencukupkan

Al-Firdaus Read More »

Bukan Sekedar Paragraf

Mengalir di Bawahnya, Sungai-sungai…

Kebun-kebun anggur, naungan yang terbentang luas, teduh, hijau, kelak tak ada lagi penderitaan di sana. Tak ada kesulitan hidup. Tak ada kesedihan. Tak ada kekhawatiran. Mengalir dari bawah istana-istananya, dari bawah pohon-pohonnya,sungai-sungai… Jannah ‘āliyah, elevated garden, kebun di tempat yang tinggi. Tak ada lagi kematian, yang ada hanya keabadian. Muda belia, selamanya tak pernah tua. Dengan

Mengalir di Bawahnya, Sungai-sungai… Read More »

Bukan Sekedar Paragraf

An-Nafsul Ammāratu bis-Sū’

Jiwa yang selalu memerintahkan kepada kejelekan. Ini adalah jiwa yang tercela. Jiwa yang selalu mendorong manusia untuk berbuat buruk. Dan memang seperti itulah tabiat jiwa. Tidak ada seorang pun yang bisa terhindar dari buruknya jiwa seperti ini kecuali orang yang mendapat petunjuk dari Allāh subhānahu wata’ālā. Sebagaimana firman-Nya ketika menceritakan tentang istri al-‘Azīz dalam Sūrah Yūsuf:

An-Nafsul Ammāratu bis-Sū’ Read More »

Hijrah

An-Nafsul Lawwāmah

Bagi yang hafal Sūrah Al-Qiyāmah, kata ini pasti sudah tidak asing. Muncul di awal sūrah, ketika Allāh subhānahu wata’ālā bersumpah dengan Hari Kiamat, lalu dengan an-nafsul lawwāmah. Jiwa yang selalu menyesali dirinya. Dan apalah yang lebih menyakitkan dari penyesalan menjelang kematian. Ketika nyawa telah sampai ke kerongkongan.Siapalah saat itu yang bisa menyembuhkan?Ketika bertaut betis kiri dan betis

An-Nafsul Lawwāmah Read More »

Hijrah

An-Nafsul Muthma’innah

Ketika seseorang sudah merasa tenang dari keraguan menjadi yakin, dari lalai menjadi mawas diri, dari khianat menjadi taubat, dari riya’ menjadi ikhlas, dari bodoh menjadi berilmu, dari berdusta menjadi jujur, dari lemah (akal) menjadi cerdas, maka dalam keadaan itu berarti nafs-nya sudah muth’mainnah (tenang). Dalam keadaan sadar seperti itu ia dapat melihat apa yang diciptakan baginya, dan

An-Nafsul Muthma’innah Read More »

Hijrah