Edukasi itu.
Bagi kami di rumah, dia adalah sebuah proses dan perjalanan.
Untuk menyadarkan, memahamkan, dan mengokohkan anak, tentang tujuan hidupnya di dunia ini. Yaitu untuk mengabdikan dirinya kepada Dia Yang Telah Menciptakannya.
Untuk menghujamkan keimanan di hati mereka dengan keyakinan yang benar-benar mengakar, bahwa kelak ada kehidupan setelah kematian. Ada pertanggung jawaban, pengauditan, dan pengadilan atas segala perbuatan. Di hadapan Rabb Seluruh Alam.
Bahwa setiap manusia akan diberi sebuah kitāb, berisi catatan super teliti tentang semua hal yang ia lakukan.
Perbuatan besar.
Perbuatan kecil.
Tidak akan ada yang luput dari catatan.
Edukasi bagi kami,
Adalah perjalanan agar taqwā, Agar sami’nā wa atha’nā, kami dengar dan kami taat, ter-install ke dalam hati mereka.
Di mana keteladanan, kebersamaan, dan persahabatan kami dengan mereka menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Ia bukan tentang bagaimana membuat mereka pintar ini, pintar itu, jago ini, jago itu. Tapi tentang gimana caranya supaya mereka terhindar dari Api-Nya, bersama-sama memasuki keabadian di jannah-Nya.
Seorang anak perempuan yang pintar matematika, sudah berusia 10 tahun namun belum juga menutup auratnya secara sempurna, bagi kami adalah sebuah kegagalan edukasi.
Seorang remaja laki-laki yang jago fisika, tapi pacaran dan menempuh hubungan haram, adalah rapor merah bagi kami.
Bagi kami,
Matematika, fisika, science, English, dan skill ilmu dunia lainnya, adalah modal yang sangat berharga jika dan hanya jika ia digunakan di jalan ketaatan kepada-Nya. Tools yang sangat berguna untuk menjemput rizq yang diniatkan untuk dibelanjakan di jalan-Nya.
Kami tidak tertarik dengan sistem edukasi di mana “yang penting lulus“, “yang penting nilai bagus“, “yang penting dapet ijazah“, “yang penting gampang dapet kerja“, dan “yang penting anak punya banyak temen“, menjadi prinsipnya.
Yang tidak memiliki perhatian kepada syari’at-Nya. Yang keimanan tidak menjadi operating system nya. Yang ketaatan kepada aturan-aturan-Nya tidak menjadi prinsipnya.
Dan bagi mereka yang selalu mengajak kami pada semua itu, kami katakan:
Lanā a’mālunā, walakum a’mālukum.
Bagi kami perbuatan kami, bagimu perbuatanmu.
Bagimu pilihanmu, bagi kami pilihan kami.
Dan inilah jalan kami.



