Carpenter Mindset vs Gardener Mindset

Kalau kita lagi ngejar barakah.
Dan pengen paham gimana sih nikmatnya tawakkal. Maka kita harus hijrah dari Carpenter Mindset ke Gardener Mindset.

Apa maksudnya mindset tukang kayu (carpenter) vs tukang kebun (gardener)?

Gini…
Menjadi seorang gardener itu, kita harus punya sabar yang banyak. Harus pinter ngerawat. Tanaman itu tumbuhnya super lambat. Harus rutin disiram. Ada yang harus dikasih pupuk. Ada yang tangkainya harus dipotong. Dan lain sebagainya.

Dan setelah itu semua pun, hasilnya bisa OK, bisa juga ngga OK. Karena tanaman itu makhluk hidup. Pada akhirnya Allah lah yang menentukan dia hidup atau mati. Bisa aja dia mendadak layu, atau tiba-tiba terserang hama, dan lain sebagainya.

Sedangkan seorang carpenter, dia harus ngerjain kerjaannya secepat mungkin, sesuai dengan jadwal, sepresisi mungkin, sesuai dengan desain.
And I control the outcome.
Hasilnya semua bisa saya atur.
Gitu kata dia.

Dalam hidup ini, kalo kita pake carpenter mindset dan terus menyangka bahwa kita bisa mengatur dan mendesain, setiap hasil dalam hidup kita, semua keberhasilan dalam hidup kita, maka kita bakalan super lelah, lelah, dan terus lelah.

Cepat atau lambat kita akan mulai ngeh. Bahwa sebenarnya, kita sama sekali ngga punya kapabilitas untuk ngatur, karena Allah lah sebenarnya Yang Maha Mengatur.

Dan kalo kita hijrah dari carpenter mindset ke gardener mindset, maka hati kita bakal nyaman beristirahat. Bersandar kepada-Nya. Bukan kepada sebab dan ikhtiar.

Kita berusaha, melakukan ikhtiar terbaik kita, semata-mata karena Allah memerintahkannya. Bukan untuk menjadikannya sandaran yang diandalkan.

Fokus kita akan bergeser. Dari gimana caranya ngatur ini semua, ke gimana caranya untuk meraih ridha-Nya. Karena kalau di situ ada ridha Allah, maka di situ pula lah barakah bisa kita temukan.

So…
Selamat “berkebun” teman-teman 🙂

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *