Ketika ujian datang,
Di sekolah misalnya. Pastinya seorang murid atau peserta ujian ya ngga boleh kan ya minta bantuan sama gurunya. Karena yang sedang diujikan adalah kemampuan dirinya sendiri untuk menyelesaikan soal-soal yang ada.
Kalo ada murid yang bilang begini (dengan nada memelas):
“Pak Guru yang baik hati… Tolongin lah please… Yang nomer 10 susah banget. Please go easy on me Pak. Please help me…”
Ini cari masalah namanya, hehe…
Nah ketika kita ngebahas tentang ujian dalam hidup ini, banyak dari kita yang menyangka bahwa mekanisme nya juga kayak gitu. Bahwa hidup ini adalah ujian yang harus kita solve dengan usaha sendiri, kemampuan sendiri, keshalihan sendiri.
Sebuah ujian untuk melihat siapa yang taat, siapa yang berma’siat. Siapa yang berbuat kebaikan, siapa yang berbuat kerusakan. Siapa yang berhasil menguasai hawa nafsu nya, dan siapa yang dipecundangi hawa nafsu nya. Siapa yang menundukkan dirinya sebagai عَبْدُهُ ‘abd-Nya, hamba-Nya. Dan siapa yang diperbudak oleh dunianya.
Semua dengan usahanya sendiri, kemampuannya sendiri, dan keshalihannya?
Shalat berjama’ah di masjid (bagi laki-laki) misalnya. Kita mendengar,
حي على الفلاح
“Hayya ‘alā-l-falāh…”
(Marilah kita menuju kemenangan)
Lalu kita melangkahkan kaki ke sana. Berdiri, ruku, dan bersujud di dalamnya. Break sejenak dari riuhnya dunia dan berbagai permasalahannya.
Memproklamirkan “iyyāka na’budu“, hanya kepada-Mu kami beribadah, mengabdikan diri, dan mendedikasikan hidup kami. Minimal 17 kali dalam sehari.
Sebuah kemenangan…
Dan kesuksesan yang sesungguhnya.
Atas usaha dan kemampuan sendiri?
Apakah ketika kita melangkahkan kaki ke masjid, di setiap milidetik nya, kita sendiri yang mengatur detak jantung kita? Metabolisme tubuh kita? Pembelahan trilyunan sel tubuh kita? Replikasi DNA dan proses super kompleks lainnya di dalam tubuh kita?
Apakah energi tubuh kita, yang kita gunakan ketika berdiri, ruku, dan sujud, kita peroleh dari makanan yang kita atur sendiri proses pertumbuhannya? Apakah kita yang mengatur seluruh proses kompleks tumbuhnya benih yang kita tanam?
Memangnya kita yang mengendalikan langsung tumbuhnya akar? Tumbuhnya daun? Proses fotosintesis? Sinar matahari yang dibutuhkan fotosintesis? Mempertahankan matahari tetap bersinar? Reaksi fusi nuklir hidrogen-helium yang terjadi di sana? Emangnya kita yang ngatur itu semua?
Apakah kita yang mengendalikan semua-mua hal yang dibutuhkan agar kita tetap melangkah dalam ketaatan?
Seringkali kita mengucapkan,
لا حول ولا قوة إلا بالله
“Lā hawla wa lā quwwata illā billāh”
(Tidak ada daya, tidak ada kekuatan, kecuali atas kehendak Allah.)
Tapi ngga benar-benar menginternalisasi maknanya.
Kata Ibnu Mas’ud radhiyallāhu ‘anhu,
لاَ حَوْلَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ إِلاَّ بِعِصْمَتِهِ، وَلاَ قُوَّةَ عَلَى طَاعَتِهِ إِلاَّ بِمَعُوْنَتِهِ
“Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari ketidaktaatan kepada Allah, selain dengan perlindungan dari-Nya. Dan tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan kepada-Nya, selain dengan pertolongan-Nya.”
Kita sering lupa, bahwa ini bukan hanya tentang “Iyyāka na’budu”,
(Hanya kepada-Mu kami beribadah, mengabdikan diri, dan mendedikasikan hidup kami.)
Tapi juga tentang “Iyyāka nasta’īn”.
(Hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan)
Bahwa bahkan untuk melakukan ketaatan kepada-Nya, untuk mengabdikan diri kita kepada-Nya, dan untuk lulus ujian pun, kita membutuhkan pertolongan-Nya.
Ustādz Muafa hafizhahullāh, dalam salah satu tulisannya berpesan, bahwa salah satu hikmah kita diuji dengan kelemahan, dengan ketidakmampuan, dengan kelesuan dan futūr, adalah supaya kita ngeh, bahwa dalam melakukan ‘amal shālih pun kita membutuhkan bantuan dan kekuatan dari-Nya.
Agar seseorang yang taat tidak muncul kesombongan dalam dirinya. Bahwa semua ketaatannya semata-mata atas kemampuan dan usahanya.
Dan supaya seseorang yang sedang futūr tidak menyerah dan tenggelam dalam kelemahannya. Agar ia memiliki harapan untuk terus menjadi lebih baik lagi, dan lagi.
Maka dalam ujian hidup ini, sering-sering lah memelas kepada-Nya,
Wahai Yang Maha Penyayang, Yang Maha Pemurah…
Tolonglah kami di dalam ujian ini.
“Nomor 10” ini terasa begitu sulit. Dan tidak ada yang bisa membuatnya jadi mudah kecuali Engkau.
Please go easy on us yā Allah.



