Al-Wahn الوهن
Cinta dunia, takut mati.
Takut miskin, takut menderita, takut kehilangan kenyamanan.
Sebuah kelemahan yang menjangkiti umat ini, sehingga ia terlihat hina di hadapan musuh-musuhnya. Musuh-musuhnya berkumpul dan bersekutu dengan leluasa, lalu menyantapnya bagai hidangan. Karena meskipun banyak jumlahnya, ia hanyalah buih yang tercerai-berai yang tak benar-benar memiliki kekuatan.
Ia takut dan ragu untuk taat.
Untuk menjalankan sepenuhnya perintah Allah dan Rasul-Nya. Karena resiko ketika taat sepenuhnya, adalah kehilangan dunia, dan bahkan nyawa.
Apakah ini hanya kelemahan yang menjangkiti para pemimpin dan pemerintah negara-negaranya?
Definitely not.
Baik pemimpin dan sebagian besar rakyatnya benar-benar telah terjangkiti kelemahan ini.
Ia benar-benar dininabobo’kan sehingga lupa, bahwa jihād dengan harta dan nyawa adalah bagian dari agama ini. Sehingga ketika saudaranya di Ghazzah sedang digempur habis-habisan oleh para monkeys & pigs pun, ia tak bisa banyak berbuat apa-apa.
Apakah ini masalah penguasaan teknologi militer, kelengkapan persenjataan, dan jumlah angkatan bersenjata?
Nope.
Karena kemenangan itu dari Allah.
Ia lupa dengan Perang Hunayn, ketika jumlah yang banyak ternyata tak bisa memberikan sedikit pun manfaat.
Ia lupa dengan Perang Badr, Yawmu-l-Furqān, ketika 300 mampu mengalahkan 1300.
Ia lupa dengan kehinaan yang menimpa Banī Isrā’īl, umat muslim ketika itu, yang terkatung-katung selama 40 tahun, tertahan tak bisa memasuki Baytu-l-Maqdis. Padahal mereka dipimpin oleh dua orang nabi: Nabi Mūsā dan Nabi Hārūn ‘alayhimassalām.
(Kehinaan yang Allah timpakan karena menolak perintah untuk berjihād merebut kembali kampung halaman yang telah dijanjikan. Dari sekian banyak jumlah mereka, hanya 2 orang yang menyambut perintah itu, yaitu Kaleb dan Yoshua. Banū Isrā’īl baru berhasil memasuki Baytu-l-Maqdis sepeninggal Nabi Mūsā dan Nabi Hārūn ‘alayhimassalām. Pasukan mereka ketika itu dipimpin oleh Yoshua yang kemudian diangkat menjadi nabi. Pada saat itu, tak ada satu pun yang tersisa dan hidup dari generasi mereka yang menolak jihād dahulu.)
Jelaslah bahwa ini semua bukan hanya tentang pemimpin. Namun tentang umat.
Riba telah mengendalikannya. Entertainment dan syahwāt telah menguasainya. Pekerjaan, karir dan bisnis telah melalaikannya.
Kehinaan menimpanya karena ia telah meninggalkan agamanya. Yang hanya bisa terangkat dengan kembalinya ia kepada agamanya.
Semoga Allah segera angkat kehinaan itu, dan berikan kembali ‘izzah, kemuliaan, kepada umat ini.
Allāhumma a’izza-l-islāma wa-l-muslimīn…
Allāhumma-n-shur ikhwānanā-l-muslimīna-l-mujāhidīna fī Ghazzah…
Catatan:
Jihād yang sesuai syari’at itu banyak syaratnya. Terorganisir oleh pemimpin negara. Tak boleh membunuh civilians & non-combatan. Tak boleh merusak rumah ibadah, dan begitu banyak syarat lainnya.



