Ketika ingin meninggalkan zona nyaman karena misalnya di dalam kenyamanan tersebut ternyata ada keharaman. Atau ketika keutamaan akhirat dan kewajiban syari’at letaknya berada di luar zona nyaman, maka biasanya syaithān akan menakut-nakuti kita dengan kemiskinan. Dengan kegagalan.
Sehingga ia terus ‘menginspirasi’ kita dengan ribuan alasan untuk tetap tinggal di zona nyaman. Karena di luar zona nyaman itu terlalu beresiko, kata dia.
Namun yang mengherankan adalah, begitu banyak dari kita yang ngga sanggup untuk menerima resiko bisnis, atau resiko ketidakpastian, atau resiko kerugian di dunia. Tapi ringan-ringan aja dalam menerima resiko hukuman super berat dan super pedih di akhirat nanti.
Bukankah keluar dari zona nyaman karena Allah itu resikonya jauh-jauh lebih kecil?
Dan bukankah Allah telah menjanjikan kepada kita ampunan dan karunia-Nya?
Iya…
Di luar pagar zona nyaman itu memang seringkali dipenuhi tantangan, kesusahan dan penderitaan. Tapi bukankah di dalam itu semua ada keberkahan?
Ada begitu banyak hikmah dan pelajaran hidup, yang hanya bisa didapatkan dengan melalui itu semua. Yang tak mungkin bisa didapatkan oleh mereka yang ngga melalui itu semua.
Yang akan mengubah kita dari pendendam menjadi pemaaf. Dari seseorang yang payah menjadi seseorang yang ngga gampang menyerah.
Dari seseorang yang merasa paling hebat dan paling segalanya, menjadi seorang hamba-Nya yang selalu merasa hina, penuh kesalahan, dan senantiasa membutuhkan ampunan dan pertolongan-Nya.
Dari seorang pemarah yang mudah menyalahkan orang lain, menjadi seorang penyabar yang mudah menyalahkan diri sendiri.
Dari seseorang yang mudah kecewa kepada manusia, menjadi seseorang yang yakin bahwa ganjaran yang telah disiapkan Allah itu jauh-jauh lebih baik dari itu semua.
Dari seseorang yang membutuhkan ucapan terima kasih, menjadi seorang mukhlish yang hanya membutuhkan ridha dan ampunan-Nya.
Dari seorang diri yang sibuk mengeluh atas doa yang tak kunjung dikabulkan, menjadi dia yang senantiasa bersyukur atas banyak hal yang telah Allah berikan.
Dari hati yang miskin, yang membutuhkan banyak hal & materi, menjadi qalbu yang kaya yang senantiasa merasa cukup dengan apa yang ada.
Dari jiwa yang selalu gelisah, padahal dikelilingi harta dan aset yang melimpah. Menjadi nafs ul-muthma’innah. Yang senantiasa tenang dalam kedamaian, meskipun tengah dikepung oleh berbagai kesulitan dan masalah.



