Fushā vs ‘Āmiyah

Suatu hari.
Di Thread saya pernah posting tentang motivasi belajar Bahasa Arab, terus ada yang comment dalam Bahasa Arab. Lalu saya ‘ngahuleng’ (mengernyit bingung) karena banyak kata asing. Apaan tuh عشان ‘asyān? Apa pula itu بس bas? كتير katīr? برضه bardhah?

Gugling lah akhirnya.
Owalah, ternyata bahasa ‘āmiyah Mesir.
Ternyata ‘asyān عشان itu lianna لأن (karena). Bas بس itu lākin لكن (tapi). Katīr كتير itu katsīr كثير (banyak). Bardhah برضه (atau katanya bisa juga bardha برضو) itu aidhan أيضاً (juga).

Ternyata orang Indo tapi bapaknya orang Mesir. No wonder lah ya.

Nah, tapi postingan ini sebenernya bukan tentang itu sih. Saya cuma mau mulai dengan contoh real, untuk sharing sedikit tentang berbagai jenis Bahasa Arab dan beberapa metode belajar yang ada. Soalnya dulu waktu awal belajar, saya sempet dibingungkan dengan ini. Kita harus belajar yang mana? Pake metode apa?

Kita mulai dengan ‘āmiyah vs fushā dulu ya. ‘Āmiyah عامية itu apa sih? Fushā فصحى juga apa?

Fushā itu Bahasa Arab yang fasih. Ibaratnya Bahasa Indonesia, fushā itu macam EYD. Di Barat, fushā ini disebut Classical Arabic (Bahasa Arab Klasik) atau MSA (Modern Standard Arabic). Meskipun Classical Arabic itu lebih ke arah bahasanya Al-Qur’ān, hadīts, dan kitab-kitab para ‘ulamā’. Sedangkan MSA itu lebih ke arah bahasa formal yang digunakan di zaman ini, baik itu di dunia perdagangan, komunikasi formal, dsb.

Sedangkan ‘āmiyah itu bahasa casual, sehari-hari, dan ngga resmi yang digunakan oleh orang asli atau orang yang udah lama tinggal di suatu daerah. Jadi ‘āmiyah itu bisa beda tergantung wilayahnya. ‘Āmiyah Saudi beda sendiri. ‘Āmiyah Mesir beda sendiri. Begitu pun Maroko, dan Suriah.

Kalo yang suka dengerin ceramahnya para masyāyikh, contohnya yang ada di channel Shahih Fiqih, seperti Syaikh Sulaymān Ar-Ruhaylī atau Syaikh ‘Abdurrazzāq Al-Badr hafizhahumallāh. Atau kalo di dunia ilmu tajwīd, mungkin pernah denger tips-tips tajwīd nya Syaikh Ayman Rusydī Suwayd hafizhahullāh. Nah bahasa yang beliau-beliau gunakan ketika ceramah / kajian itu fushā.

Fushā itu bahasa yang mengikuti kaidah-kaidah tata bahasa (grammar) yang dalam Bahasa Arab terdiri dari ‘ilmu Nahwu dan Sharf. Nahwu itu kurang lebih membahas bunyi akhiran suatu kata dan bagaimana dia bisa berubah sesuai posisinya di dalam kalimat. Sedangkan Sharf itu mempelajari morfologi kata dan bagaimana suatu akar kata bisa berubah menjadi banyak kata dengan bebagai pola yang ada.

Mayoritas orang Arab yang menggunakan fushā adalah mereka yang sudah mengenyam pendidikan. Jadi biasanya fushā itu cuma dipake sama orang-orang berpendidikan, cendekiawan, dan para ‘ulamā’. Makanya kalo ada pendatang, ngajak ngobrol pake fushā, katanya, biasanya reaksi mereka adalah reaksi kaget bercampur respect.

Sedangkan ‘āmiyah, dia ngga ngikutin kaidah tata bahasa. Beberapa contoh ‘āmiyah Saudi yang saya pernah denger contohnya:

  • Aiwāh أيواه (sering ditulis eiwah), artinya ‘iya /baiklah’. Fushā nya: na’am نعم
  • Yā būya يا بوي , artinya ‘Wahai ayahku’. Fushā nya: ‘Yā abī’ يا أبي
  • Mā fī musykilah ما في مشكلة , artinya ‘ngga apa-apa / no problem’. Fushā nya: Lā ba’sa لا بأس atau Lā ba’sa bidzālik لا بأس بذلك

Terus kita harus belajar yang mana dong?
Ya tergantung tujuannya dulu mau apa.

Kalo tujuannya misalnya mau kerja di Timur Tengah, supaya luwes ngobrol sama penduduk asli di sana, kalo belajar fushā, Nahwu & Sharf ya ngga akan kepake. Belajar aja ‘āmiyah yang spesifik dipake di daerah itu.

Dan kalo tujuannya mau paham bahasa Al-Qur’ān & Hadīts. Mau paham bacaan shalat, doa, dan dzikir. Ya harus belajar fushā. Dan mau ngga mau harus belajar Nahwu & Sharf. Kalo belajarnya percakapan ‘āmiyah, ya ngga akan ngepek nanti.

Dan yang sangat dianjurkan untuk dipelajari oleh seorang muslim adalah fushā, beserta Nahwu & Sharf nya. Supaya bisa lebih khusyū’ ketika shalat. Supaya pengalaman membaca Al-Qur’ān nya jadi lebih bermakna dan mengena. Supaya bacaan doa & dzikir nya lebih menyentuh hati.

Meskipun memang ada dua pendekatan dalam belajar fushā ini. Yang pertama, metode belajar yang dimulai dari benda/aktivitas sehari-hari dan percakapan dulu (percakapan fushā bukan ‘āmiyah). Membiasakan pembelajar dengan berbagai kalimat dan kosa kata Bahasa Arab. Baru nanti masuk ke tata bahasa, Nahwu, Sharf, lalu baru Bahasa Al-Qur’ān.

Di metode ini, yang biasanya dipake di awal-awal itu kitab ‘Durūs ul-lughah’ atau lengkapnya ‘Durūs ul-lughat il-‘arabiyyati lighayr in-nāthiqīna bihā’ (Pelajaran Bahasa Arab untuk Pembelajar Non-Arab) karya Dr. V. ‘Abdurrahīm rahimahullāh. Kitab ini sering juga disebut Kitab Madinah atau Madinah Book. Atau juga misalnya kitab ‘Al-‘arabiyyatu bayna yadayk’ (Bahasa Arab di Kedua Tanganmu).

Semua skill bahasa (baik itu pasif maupun aktif) bakal digarap dalam metode ini, baik itu membaca (reading), mendengarkan (listening), menulis (writing), maupun berbicara (speaking).

Metode kedua, itu metode Al-‘Arabiyyat ul-Qur’āniyyah atau sering disebut juga Qur’ānic Arabic. Di mana pembelajar langsung belajar tata bahasa, Nahwu, Sharf, dan kosa kata yang digunakan dalam Al-Qur’ān. Jadi ngga akan belajar dulu percakapan, benda sehari-hari, dll. yang mungkin kurang relevan dengan isi Al-Qur’ān. Dan metode ini hanya akan fokus ke skill pasif, yaitu membaca (reading) dan mendengarkan (listening).

Menurut pengamatan sekilas saya, metode ini kurang populer di Indonesia. Dan mungkin lebih populer di luar Indo, terutama di kalangan English speaking world. Mungkin karena English itu tata bahasanya lebih bisa dibandingkan dengan tata bahasa Arab, ketimbang Bahasa Indonesia yang cenderung sangat sederhana.

Qur’anic Arabic ini kalo diajarin langsung full beserta semua istilah Nahwu & Sharf dari awal, biasanya bakal bikin kebanyakan pembelajar ‘mengibarkan bendera putih’, hehe. Tapi kalo pengajarnya bagus, dan metodenya bagus, dia bakal mengenalkan istilah secara pelan-pelan. Dan banyak bikin analogi dari tata bahasa pengantarnya, supaya lebih familiar.

Dan metode ini, kalo core (inti) konsepnya udah kepegang, biasanya langsung ngepek cepet ketika baca Al-Qur’ān dan ketika shalat.

Pastinya setiap orang punya preferensi dan kecocokannya masing-masing sama kedua metode di atas. Saya pribadi lebih cocok dengan metode Qur’anic Arabic, soalnya tujuan saya dulu simpel aja. Pengen ngerti bacaan shalat dan langsung paham pas baca Al-Qur’ān.

So, mudah-mudahan sharing sederhana ini bisa menghilangkan kebingungan buat yang lagi belajar Bahasa Arab atau yang baru mau belajar Bahasa Arab ya.
Semoga bermanfaat 🙏

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *