Ngga semua anak muslim harus jadi ahli hadīts, fuqahā’ dan ‘ulamā’. Kalo kecenderungan mereka lebih ke science, matematika, teknologi, engineering ataupun entrepreneurship, ya ngga apa-apa.
Tapi mereka tetep harus kuat tauhid-nya, pemahaman tujuan hidupnya, adabnya, dan basic-basic halal-haram semua urusannya. Sehingga profesionalisme & entrepreneurship-nya dibungkus dengan framework syari’at. Dan mereka menjadi individu-individu yang punya integritas (kejujuran) yang solid.
Sehingga ketika mereka jadi engineer di engineering contractor misalnya. Mereka ngga akan nurut begitu aja kalo bosnya nyuruh untuk memanipulasi & nurunin spesifikasi alat, material (bahan), ketebalan aspal, campuran concrete, dsb. demi ngejar harga murah. Dan mereka ngga akan gentar kalopun mereka diancam PHK. Karena mereka sudah sangat paham bahwa bumi Allah itu luas, dan Allah itu sebaik-baik pemberi rizqi.
Ketika mereka jadi entrepreneur misalnya, mereka udah ngerti fiqih mu’amalah. Mereka ngga akan mencari modal usaha dari sumber-sumber yang menggunakan sistem riba, dan ngga akan melakukan praktek-praktek curang yang hina demi keuntungan semata.
Kuat ilmu dunianya.
Solid fondasi tauhid & syari’at-nya.



