Lifelong Learning

Kalo kita ngomongin ilmu dunia macam STEM (Science, Technology, Engineering & Mathematics), bahasa, sejarah, ilmu sosial, dan sebagainya, beberapa hal mendasar yang membedakan sistem pendidikan saat ini di sekolah dengan cara belajar kami di rumah adalah:

  1. Menu belajar
  2. Pace (kecepatan melangkah)
  3. Periode

Sistem di sekolah pada umumnya (terutama di Indo) menggunakan ‘factory line model‘ (model jalur pabrik) yang menggunakan menu & pace belajar yang standard, sama, dan pukul rata. Yang pada intinya bilang begini: “Ini menu belajar kamu untuk 1 semester. Kalo kamu ngga bisa paham dalam waktu 1 semester, berarti kamu bodo.

Sistem ini pada umumnya ngga mengenal adanya diferensiasi pembelajaran (differentiated instruction), bahwa setiap pembelajar itu unique, punya kecerdasan, kecenderungan, kelebihan, dan bakatnya masing-masing. Bahwa waktu yang dibutuhkan bagi setiap pembelajar untuk memahami suatu topik itu bisa berbeda-beda.

Ada yang cuma dengerin 5 menit penjelasan guru udah langsung paham suatu konsep dalam Matematika misalnya. Ada juga yang butuh berhari-hari. Dan bahkan berbulan-bulan baru paham.

Ada yang paham dengan cuma penjelasan angka-angka di papan tulis. Ada yang butuh tambahan visualiasi warna-warni. Dan ada yang butuh alat peraga yang bisa dipegang dan dicoba.

And there’s nothing wrong with that.
Ngga ada yang salah dengan itu semua.

Tapi dalam sistem ini, kalo ngga bisa ngikutin cara belajar standard yang ada di kelas dan ngga bisa paham sejumlah topik dalam 1 semester, pembelajar ini dianggap gagal.

Padahal bisa jadi dia cuma butuh waktu yang lebih banyak aja untuk paham. Atau butuh metode lain yang sesuai dengan kecenderungannya untuk bisa paham.

Padahal dia punya waktu seumur hidup untuk terus belajar dan belajar. Untuk belajar mencintai apa yang ia pelajari. Untuk meng-eksplorasi penggunaan ilmu tersebut di dunia nyata. Untuk melihat langsung manfaatnya. Untuk benar-benar paham, punya rasa memiliki yang kuat untuk terus belajar lagi. Dan lagi.

Tanpa harus dikejar-kejar target kurikulum semester. Tanpa harus menerima vonis gagal ketika belum menguasai suatu konsep dalam periode waktu tertentu. Yang seringkali tanpa sadar bisa membunuh kecintaan seorang pembelajar terhadap suatu pelajaran. Yang membuat para pembelajarnya jadi benci pelajaran itu.

Sehingga begitu lulus langsung, “Horeee bebas! Ngga usah belajar lagi!” Sambil corat-coret seragam. Saking bencinya sama belajar. Dan saking happy-nya bisa keluar dari ‘pabrik’.

Lifelong learning.
Terus belajar seumur hidup karena kecintaan belajar yang tinggi. Itulah modal yang sangat penting untuk kita tanamkan kepada anak-anak kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *