Salafi

Salafi itu sebenernya bukan aliran macam aliran listrik ya gaes, hehe. Salafi itu sebuah karakter seorang muslim, yang senantiasa ingin meneladani cara dan pemahaman beragamanya para salaf, yaitu 3 generasi terbaik Islam: para sahabat, pengikut para sahabat (tābi’ūn), dan pengikut para tābi’ūn (tābi’ ut-tābi’īn).

Apapun ormasnya, apapun latar belakangnya, seseorang bisa memiliki karakter salafi. Karena ia memang bukan nama kelompok, aliran, maupun hizb.

Karakter salafi itu bukan karakter seseorang yang bertaklid buta kepada Syaikh ul-Albani rahimahullāh. Ataupun Syaikh Utsaimin rahimahullāh. Ataupun Ibnu Taymiyah rahimahullāh. Ataupun ustadz dan guru ngajinya.

Dan meneladani para salaf itu bukan hanya dari ‘aqīdah nya aja, tapi juga adab dan akhlāq nya.

Ngga ada ustādz yang bisa kita panggil ustādz salaf, karena para salaf semua sudah meninggal. Dan kita ngga punya mesin waktu untuk belajar langsung sama mereka.

Tugas kita, adalah melakukan usaha terbaik untuk mengikuti ustādz dan ‘ulāmā’ di zaman ini yang paling dekat dan paling merepresentasikan cara beragama dan pemahaman para salaf. Meminta petunjuk kepada Allah agar senantiasa dianugerahi pemahaman beragama yang benar. Dan terus memohon agar dijauhkan dari pemahaman yang keliru.

Terus menerus mempelajari adab, agar ilmu yang didapat, ngga cuma parkir di kepala. Namun turun ke hati, hingga teramalkan dengan penuh keberkahan.

Memahami mana perkara yang ushūl (yang basic, mendasar, tanpa kompromi). Dan mana perkara yang furū’ (yang cabang, yang masih lapang ruang beda pendapatnya, yang luas lahan komprominya).

Di saat yang sama, selalu ngga pernah puas untuk terus mencari kebenaran. Supaya ngga seperti ahli kitāb yang percaya begitu aja sama apa yang diomongin pendetanya. Tanpa verifikasi. Tanpa sanad. Tanpa baca langsung. Tanpa mempelajari bahasa aslinya.

Sehingga ada orang ngotak-ngatik agama Allah, mereka ngga ngeh. Mereka campur adukkan firman Allah sama kata-kata manusia, mereka ngga ngeh. Ada tokoh mengatasnamakan nabi, padahal kata-katanya sendiri, mereka ngga ngeh.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *