Kebanyakan orang.
Ketika ia kekurangan harta. Maka ia akan beredar. Bersosialisasi. Curhat. Mengeluh. Mengemis-ngemis. Bermudah-mudah dalam berutang.
Dan ketika ia berlebih dalam harta. Maka ia akan sembunyi. Untuk menikmatinya sendiri. Ia tutup-tutupi supaya ngga perlu berbagi.
Sedangkan seseorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir.
Ketika ia kekurangan harta. Maka ia akan sembunyi. Ia akan tutup-tutupi kemiskinannya. Ia tak akan bermudah-mudah curhat, mengeluh, mengemis-ngemis, apalagi berutang.
Sabda Rasūlullāh ﷺ selalu mengingatkannya,
مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ أَوْشَكَ اللهُ لَهُ بِالْغِنَى: إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ.
“Barang siapa yang ditimpa suatu kesulitan lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka tidak akan tertutup kefaqirannya. Dan barangsiapa yang mengadukan kesulitannya kepada Allah, maka Allah akan memberikannya salah satu diantara dua kecukupan: kematian yang cepat atau kecukupan yang cepat.”
[HR Abu Dāwūd No. 1645, shahīh]
Begitu pula nasihat Imam Asy-Syāfi’ī rahimahullāh,
“Kemuliaan jiwa seseorang ada pada tiga perkara: (1) Menyembunyikan kefaqiran hingga orang lain menyangka bahwa engkau berkecukupan. (2) Menyembunyikan kemarahan hingga orang lain menyangka bahwa engkau ridha. (3) Menyembunyikan penderitaan hingga orang lain menyangka bahwa engkau hidup enak”
[Manāqib usy-Syāfi’ī. Jilid 4, hal 188]
Dan ketika Allah lebihkan ia dalam harta. Maka ia akan beredar. Bersosialisasi. Menyambung shilat ur-rahm. Menyambung ukhuwah persaudaraan. Aktif mencari dan mengunjungi saudaranya, sahabatnya, temannya, yang sedang kekurangan atau membutuhkan pertolongan.
Karena ia ingin hisāban yasīrā, pemeriksaan yang mudah kelak di ākhirah. Karena ia ingin mengubah hartanya yang fana, menjadi ganjaran yang begitu besar. Karena ia sedang berlari menuju jannah, yang luasnya seluas langit dan bumi.
Karena ia tidak menginginkan “es yang sebentar saja meleleh”. Yang ia inginkan adalah “permata” yang ABADI.



