Ketaatan yang Dunia-sentris

Seringkali.
Ketaatan itu di-frame dengan cara pandang yang begitu dunia-sentris.

“Tuh liat Si Fulān. Dulu hidupnya sengsara. Sekarang setelah hijrah, melakukan ‘amalan A, B, C, D, cabang usaha nya di mana-mana. Pegawainya ribuan. Omsetnya MM-an.”

Sebuah mindset yang sekilas memberikan kesan bahwa happy ending orang taat itu cuma di dunia. Dan kalo ada orang yang di dunia ngga happy ending, berarti bukan orang taat?

Padahal besar-kecilnya porsi dunia, ngga menunjukkan besar-kecilnya cinta Allah kepada kita.

Padahal begitu ruginya kita, kalo dunia dapet, tapi akhirat ngga. Ibarat dapet receh ratusan rupiah, tapi kehilangan ratusan juta rupiah. Atau dapet kesenangan 2 menit, tapi kehilangan kebahagiaan bertahun-tahun.

Begitu ruginya.

Kalo kita sampe kehilangan rumah-istana yang batu batanya aja dari emas dan perak. Yang kerikil nya aja dari mutiara & permata. Yang naungan pohonnya begitu besar, sampe-sampe ngga juga habis terlewati pengendara kuda tercepat selama 100 tahun. Taman-taman tempat tinggal menetap, yang bisa dinikmati bukan cuma ratusan tahun, bukan ribuan tahun, bukan jutaan tahun, tapi ABADI SELAMANYA.

Dan cuma dikasih sesuatu senilai milyaran di dunia, yang hanya bisa dinikmati maksimal puluhan tahun.

Sebagaimana firman Allah Ta’ālā:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di akhirat kelak tidak akan memperoleh balasan apa-apa, kecuali api neraka. Dan lenyaplah ‘amal kebaikan yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.”
(Sūrah Hūd: 15-16).

Na’ūdzu billāhi min dzālik.
Dapet bagian di dunia, tapi ngga dapet apa-apa di akhirat. Kecuali api neraka.
Karena telah mengejar dunia,
dengan ‘amalan akhirat.

Catatan:
Ini bukan berarti men-nullify atau men-deny bahwa Allah bisa jadi menyegerakan balasan kebaikan seseorang di dunia. Bukan.
Allah sangat bisa menyegerakan balasan kebaikan seseorang di dunia.

Yang jadi masalah bukan itu. Tapi niatnya. Motivasinya. Jangan sampe motivasi dunia mendominasi, apalagi menguasai 100%.

Para ‘ulamā’ menjelaskan, bahwa untuk ‘amalan yang memang dijelaskan dalam syari’at bisa mendatangkan balasan di dunia (seperti shilat ur-rahm, dll.), masih boleh ada motivasi dunia yang bercampur dengan motivasi akhirat. Tapi ngga boleh jadi tujuan utama. Apalagi jadi satu-satunya tujuan, tanpa disertai sedikit pun motivasi akhirat.

Best practice-nya.
Fokus aja sama motivasi akhirat. Ngga dapet balasan apa-apa di dunia. Ngga happy ending. Ngga masalah. Dan kalo ternyata Allah kasih balasan di dunia, alhamdulillāh. Itu berarti bonus.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *