Seandainya.
Di masjid setiap harinya udah disediain hadiah mahal buat dibagiin ke setiap jama’ah shalat shubuh. Senen HP high end. Selasa laptop high perfomance. Rabu motor 20 jutaan. Dan seterusnya tiap hari.
Maka niscaya membludak lah itu masjid dengan jama’ah shalat shubuh.
Padahal ganjaran 2 rakaat shalat sunnah sebelum shubuh itu lebih baik dari dunia dan seisinya (lihat HR Muslim No. 725).
Kurang mahal apa coba? Dunia dan seisinya! Dan bahkan lebih dari itu. Dan itu baru shalat sunnah nya. Entah sebanyak apa ganjaran shalat shubuh berjama’ah nya itu sendiri.
Saya iseng-iseng nanya ChatGPT, berapa sih estimasi nilai finansial seluruh dunia. Ini jawaban dia:
“Estimating the financial value of the entire world is extremely complex and speculative, involving a multitude of factors such as global GDP, assets, natural resources, infrastructure, and more. In 2022, global wealth was estimated at around $431 trillion, which includes financial assets, real estate, and tangible goods. However, placing an exact financial value on the entire world is not feasible due to the vast number of intangible and unquantifiable elements like human capital, ecosystems, cultural heritage, etc.”
Kata dia, ngitung estimasi nilai seluruh dunia itu sesuatu yang sangat-sangat kompleks dan susah dilakuin, karena faktornya buanyak banget termasuk GDP (Produk Domestik Bruto) seluruh dunia, aset-aset, sumber daya alam, infrastruktur, dan masih banyak lagi.
Tapi dia ngasih angka global wealth atau kekayaan penduduk dunia, yang memperhitungkan aset-aset finansial, real estates, dan tangible goods (barang-barang berwujud). Tahun 2022, nilainya diperkirakan sebesar $431 trillion atau sekitar Rp 6,5 kuintiliun atau Rp 6,5 juta triliun.
Itu baru global wealth. Dunia dan seisinya itu jauh jauh jauh lebih mahal dari itu.
Terus kenapa jama’ah shalat shubuh di masjid masih sering sepi kalo gitu? Padahal setiap jama’ah dapet ganjaran senilai lebih dari 6,5 juta triliun rupiah.
Mungkin alasannya karena 2 hal:
- Ganjarannya ngga keliatan. Jadi ngga yakin.
- Dapetnya masih lama. Pengennya sekarang.
Yang nomer 1 itu, adalah mindset “I believe it, when I see it“. Saya cuma percaya dan yakin, kalo saya liat langsung. Kalo bisa dijilat. Kalo ngeliat langsung dengan mata kepala sendiri, ‘ayn ul-yaqīn.
Padahal, ada yang namanya ‘ilm ul-yaqīn. Keyakinan berdasarkan ilmu. Ngga liat langsung, tapi dikasih tau sama sumber reliable & terpercaya. Udah, cukup.
Ibarat info kemacetan di radio. Kita lagi nyetir di jalan tol kosong melompong. Terus tiba-tiba dapet info, 10 km di depan kita ada kemacetan sangat parah. Disarankan keluar jalan tol ambil jalur lain.
Kalo stasiun radionya reliable & terpercaya, kita kan ngga usah liat langsung kemacetannya. Kita tau infonya reliable, shahīh, ya udah. Cukup. Langsung keluar tol. ‘Ilm ul-yaqīn.
Dahsyat sekalih kalo kita bilang, “Ah… Macet apaan. Kosong gini koq. I believe it when I see it. Tancap gas terus di jalan tol.“
Dan ketika akhirnya ngeliat langsung dengan mata kepala sendiri kemacetannya. Baru percaya dan yakin. Baru nyesel.
Tapi ngga ada gunanya lagi yakin, dan ngga ada gunanya lagi nyesel pada saat itu.
Yang nomer 2 itu masalah karakter ngga sabaran. Manusia itu memang basic character nya ngga sabaran. Maunya sekarang. Now.
Kecenderungannya memang lebih memilih yang bisa dinikmati sekarang, meskipun itu murah. Dibandingkan sesuatu yang bisa dinikmatinya baru nanti masih lama, meskipun itu jauh lebih mahal.
Butuh energi besar bernama shabr صَبْر untuk menaklukkan kecenderungan itu.
Semoga Allah mudahkan kita untuk meraihnya.
Semoga senantiasa Allah tambahkan kepada kita, ‘ilman nāfi’ā, ilmu yang bermanfaat. Sehingga tanpa melihat langsung pun, sudah cukup bagi kita untuk mendapatkan keyakinan. Untuk mendapatkan īmān.



